Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Tuesday, February 17, 2015

Ah, tak apa

Banyak yang mengatakan aku aneh. Jangankan mereka, akupun merasa bahwa aku aneh, namun aku tak terlalu ambil pikir tentang itu. Toh aku nyaman.

Salah satu keanehan ku adalah, aku suka menganalisa diriku sendiri. Kapan aku merasa sedih, apa yang membuatku marah, kapan aku menangis, kenapa aku tertawa, dsb. Memang benar kalimat itu, tidak ada yang lebih mengetahui dirimu dibandingkan kamu.

Kejadian hari ini membuatku kembali ke 6 tahun silam, dimana aku menangis sesenggukan karena usahaku menjadi juara 2 dalam suatu lomba tak dihargai sama sekali. Yang ada dipikiran mahluk itu hanyalah juara 1. "Sekolah kita tak pantas menjadi juara 2," ujarnya. Huh, siapa dia, mengajariku pun tidak, beraninya dia mencelaku.

Setelahnya, memoriku berkelana menuju dua hari yang lalu. Aku tersenyum pahit, menahan butiran air mata yang siap jatuh kapan saja. Tubuhku bergetar, usahaku selama dua malam dihempaskan begitu saja, bagai mahakarya hina yang tak pantas dipertontonkan. Benar adanya, beberapa kebanyakan orang, tidak peduli seberapa besar usahamu, berapa malam kau habiskan tak tidur, berapa banyak buku dan artikel kau bolak-balik hanya untuk sebuah presentasi. Mereka tak peduli semua itu, yang mereka inginkan adalah hasil yang memuaskan. Inilah hidup. Pahit, namun harus kau jalani.

Hari ini, tiba-tiba aku sudah berdiri di pelukan sahabatku, menangis sejadi-jadinya. Entahlah, mungkin karena terlalu lelah aku tak lagi sanggup membendung air mataku. Genap sudah 3 malam aku tidur larut ditambah 1 malam tanpa tidur demi hari ini, demi sebuah presentasi yang bahkan tidak dilihat 1/5 nya. Presentasi yang membuahkan tatapan sinis mereka, mencibir setiap kesalahanku.

Ah, tak apa, terkadang kau butuh untuk menangis. Yang tidak boleh adalah ketika kau menangis dan kemudian menyerah. Perjalanan ini baru dimulai, kawan....

Monday, July 7, 2014

Tarian Kehidupan

Sosoknya terpekur dalam kesendirian, tatapannya yang nanar menyapu daratan memilukan hati setiap insan yang melihatnya. Ia biarkan satu per satu bulir air mata jatuh membasahi pipinya tanpa ada perlawanan. Raganya sudah tak lagi sanggup menahan getar sakit di hati yang tak kunjung hilang. Luka lama yang bertahun-tahun terpendam terbuka lagi, menguak perih dalam memori kelam kala itu. Kala ia dihujani caci maki, kala kehidupan tak berpihak padanya. Bukan karena ia bodoh, bukan pula karena ia buruk rupa, ia hanyalah korban pandangan sepihak dari batasan-batasan keharusan yang dibuat oleh masyarakat.

Sempat ia terombang-ambing kehilangan arah dan pegangan. Tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, sama seperti saat ini, sosoknya di masa lalu hanya bisa menangis, ia tak mampu melawan hujaman caci maki dari orang dewasa di sekitarnya. Sosok kecil itu tak mengerti apa kesalahan yang diperbuatnya. Ia tidak nakal, ia tidak memasang muka masam, ia hanyalah gadis biasa yang mencoba untuk menjadi anak yang baik.

Gadis kecil tersebut hanya bisa tersenyum, berusaha menyenangkan banyak orang dalam kepura-puraan. Ia tak lain hanyalah boneka yang dibuatnya sendiri. Tak ada yang tahu di balik senyumannya itu terdapat tangis kesedihan, terdapat luka yang dalam yang tak akan pernah hilang. Tak ada yang tahu dibalik keceriannya ia memendam luka yang sewaktu-waktu bisa kembali menganga.

Rasa sakit yang tertimbun membuat gadis kecil itu tumbuh menjadi sosok yang kuat sekaligus rapuh. Perlahan-lahan ia mulai belajar menari mengikuti alunan titik hujan, seirama dengan pepohonan yang diombang-ambing kerasnya angin. Namun hari ini, tarian itu hilang, gerakannya terhenti, tubuhnya kaku. Ia tersungkur dalam keheningan malam dan derasnya hujan. Tangisnya mulai menjadi, luka lama itu terbuka kembali. Meski ia tahu Tuhan telah menuliskan skenario terbaik untuknya, meski ia tahu semua ini ada artinya, namun ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa ia masih membawa kesedihan bersama dengan setiap hembus nafasnya.

Cukup lama ia membiarkan dirinya tercabik-cabik memori yang menusuk hati dan mengaduk perasaan. Namun, perlahan gadis itu bangkit dan menghapus air matanya. Ia menengadahkan wajahnya ke langit, menikmati setiap titik hujan yang mengenai tubuhnya. Pelan-pelan seulas senyum tersungging di wajahnya, senyum yang merangkum kesedihan dan kebahagiaan. Senyum yang memperlihatkan kekuatan yang berdiri gagah melindungi rapuhnya hati. Senyum itu, senyum itu yang selalu menguatkannya untuk terus bangkit meneruskan tarian yang sempat terhenti. Karena dunia hanyalah panggung kehidupan yang memiliki alurnya sendiri, sebuah alur yang takkan pernah diketahui kelanjutannya, menuntut pemerannya untuk memberikan tarian terbaik. Tarian kehidupan.


Tuesday, April 8, 2014

Hai kamu...

Hai kamu, iya kamu yang ada dalam diriku, terkadang aku tidak mengenalimu. Siapa kamu sebenarnya? Tahukah kamu, ketika aku berbeda pendapat denganmu hatiku sakit sekali, batinku menangis, dan aku tetap tidak mengerti akan mengalir kemana konflik ini. Pikiranku tak lagi ku mengerti, jiwaku tak lagi setegar biasanya, butuh beberapa menit bahkan beberapa hari untuk meluruskan kembali benang-benang kusut dalam diriku.

Hai kamu, sungguh aku tak ingin peperangan ini terjadi, lebih baik aku dibenci seluruh dunia tapi tak dibenci olehmu. Iya, kamu, sisi lain dari diriku. Inikah yang biasa disebut oleh setiap orang sebagai peperangan batin? Sungguh rasanya sangat sakit dan tidak enak. Mempertanyakan pemikiran yang telah kita miliki selama ini, meragukan keputusan yang baru saja diambil.

Hai kamu, bolehkah ku teteskan air mata ini sejenak saja? Untuk melepas beban berat yang ada di pundakku. Untuk sebentar saja merasakan kedamaian di atas segala kericuhan di dunia ini. Bolehkah?

Hai kamu, kukira aku akan baik-baik saja, selama ini kita sudah sering membahas tentang hal ini kan? Betapa kita akan mengikhlaskan apapun takdir yang ditentukanNya, bahwa apapun yang terjadi kita akan tetap baik-baik saja. Tapi mengapa pada akhirnya hatiku sakit, kenapa aku jadi lemah? Kenapa? Bisakah kau jelaskan padaku, wahai kamu sisi lain dariku?

Hai kamu, peluklah diriku sebentar saja, katakan kepadaku bahwa aku adalah wanita yang tegar. Bantu aku berdiri, bantu aku untuk menjadi kuat kembali seperti biasa. Karna aku tahu kamu masih tetap berpegang pada prinsip kita dulu, meskipun terkadang aku lemah, aku tahu akan selalu ada kamu yang menguatkanku.

Hai kamu, maafkanlah aku, biarkan aku menuangkan segala keluh kesahku sebentar saja, hanya untuk saat ini saja. Agar pikiranku tak lagi kusut dan aku bisa lebih fokus dengan berbagai macam tujuan yang telah kita tentukan bersama.

Hai kamu, terimakasih ya. Terimakasih telah menguatkanku, untuk kembali menantang kerasnya dunia. Sekarang kita sudah bisa kembali berjalan di jalur yang sama, sekarang tak ada lagi hati yang bingung, semua sudah selesai. Terimakasih karna kamu telah mendengarkanku dengan seksama. Terimakasih kamu, sisi lain diriku. Meskipun aku terkadang tak mengenalimu, tapi aku tahu bahwa kamu akan selalu ada di sisiku, sepanjang apapun jalan yang kita tempuh kau kan terus genggam erat diriku, sehingga tidak terlepas dari jalur kehidupanku. 

Tuesday, March 18, 2014

Living with Strangers

Nggak terasa, it has been almost three years for me living in Singapore. Banyak banget hal yang udah terjadi baik itu menggembirakan atau menyedihkan. Salah satu hal yang paling berkesan banget buat aku adalah saat harus kontrak rumah bareng sama temen-temen. Disitu bener-bener kayak ilmu-ilmu komunikasi --atau apapun lah-- kepake banget. Banyak banget perubahan yang aku rasain, dari pertama kali kontrak rumah sampai sekarang. Perubahan-perubahan inilah yang mau aku share sama temen-temen semua :) Get ready to get into my life's journey! *cring*

Kembali ke satu setengah tahun yang lalu. Seorang enes baru beradaptasi dengan rumah barunya. Yups, ini adalah pindahan yang ke-tiga kalinya selama satu setengah tahun enes tinggal di Singapur. Hampir semua jenis tempat tinggal udah enes coba, mulai dari tinggal di hostel selama 6 bulan, well seru sih banyak temennya, tapi kamar yang kecil, kamar mandi luar berjarak 100m, mesin cuci berbayar, dapur yang letaknya berbeda dua tingkat dari kamarku (harus naik tangga pula -.-) dan ibu asrama yang galak adalah sesuatu yang sudah selayaknya kutinggalkan.

Berpindah dari hostel, aku mendapatkan sebuah kamar yang terletak tidak terlalu jauh dari hostel. Kamar ini dimiliki oleh keluarga Melayu Singapur, mereka cukup ramah sih, hanya saja kultur yang berbeda dan anaknya yang masih kecil-kecil membuatku cukup tidak konsen belajar. Akhirnya akupun pindah lagi.

Selanjutnya aku tetap menyewa kamar, namun yang sekarang pemiliknya adalah keluarga Indonesia. Menyenangkan sih, kami bisa menonton SCTV bareng (hehe), jalan-jalan bareng, belajar mengaji bareng, terkadang kalau ibu kos sedang masak aku juga suka kebagian makanan. Tapi niih tapi.. pada suatu hari datanglah seorang flatmate yang, uh, ya begitulah, jadi akupun pindah lagi.

Oke, kembali lagi ke satu setengah tahun yang lalu, aku akhirnya pindah ke sebuah condominium yang cukup mewah, bagus, dan di tengah kota. Wow sekali pokoknya. Aku tinggal bersama dua temanku yang lain, kami belom kenal-kenal banget sebenernya, yah bisa digambarkan kayak nikah lewat proses ta'arufan gitu, kenalnya belom lama, eh tiba-tiba tinggal serumah bareng *apasih, mulai geje*

Pada awalnya kami hidup aman nyaman tentram, aku mulai belajar cara menghitung pengeluaran listrik, TV, bill AC, dsb. Tapi selanggeng-langgengnya hubungan pasti ada nggak mulusnya kan, hehehe. Karna kami menyewa satu rumah sendiri, jadi banyak temen-temen yang mulai menggunakan rumah kami sebagai 'basecamp.' Seru sih jadi sedikit rame gitu rumahnya, tapi ya namanya juga temen 'mampir' jadi kadang begitu mereka pulang rumah keliatan naujubillah berantakan. Kami mulai ribut dan berpikir keras tentang peraturan-peraturan tentang kebersihan, piket, jadwal mencuci, jadwal masak, cara mencuci baju, dsb. Terkadang aku masih tidak berani mengemukakan pendapatku, karna takut menyingggung yang lain, jadi terkadang aku ikut aja dengan keputusan temen-temen.

Sebulan, dua bulan berjalan, aku mulai berani mengemukakan pendapatku dan menegur ketika ada temanku yang salah, yah kadang sedikit menyindir juga sih, hehe. Kami belajar cara mengelola keuangan agar hemat, aku juga belajar untuk menolak ajakan temanku ketika aku sedang tidak ingin melakukannya (ternyata dibutuhkan seni tersendiri untuk menolak teman), kayak ngajak window shopping saat aku lagi ingin belajar, dsb. Bill listrik kami yang tadinya luar biasa melambung kini sudah mulai stabil, kebersihan rumah juga lumayan terjaga, kami juga mulai mengenal kepribadian satu sama lain dan sering beraktivitas bersama. Adikku, Ara juga mulai tinggal bersama kami, menyenangkannyaa :3

Hingga akhirnya peristiwa itupun terjadi, tiba-tiba salah seorang temanku pindah. Kami kira itu hanyalah keinginan sementara saja, tapi ternyata tidak. JEDER! permasalahan pembagian keuanganpun terjadi, sesuatu yang tiba-tiba begini membuat kami kelimpungan. Inilah kesalahan kami, atas asas pertemanan, tiada hitam putih yang tertera di antara kami. Semua hanya berdasarkan lisan, dan itu adalah sesuatu yang FATAL sekali. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur, kami relakan teman kami pindah, dan berusaha untuk menutupi biaya yang bertambah dengan menyewakan salah satu kamar secara harian. Yah meskipun berat, dan rasanya kami belum ikhlas, tapi dunia masih berputar, masih ada hari-hari yang menanti untuk kami 'warnai,' dan kami nggak akan nyerah begitu aja.

Alhamdulillah kamar yang kami sewa lumayan laris, hampir setiap minggu pasti ada yang mengisi. Yah walaupun berat juga, aku harus bangun pagi-pagi untuk masak sarapan (fasilitas menginap), nggak bisa bebas berkeliaran, harus bersih-bersih kamar total, ganti sprei, dsb pokoknya service excellent banget deh kamar gue nih. Tapi seru juga sih, jadi dapet banyak kenalan, belajar cara memikat customer, cara ngiklanin kamar, channel-channel buat iklan, dsb.

Nggak terasa satu tahun sudah berlalu, namun beban biaya yang kami pikul masih terasa berat, akhirnya setelah dihitung-hitung untung ruginya, kami berpikir untuk pindah rumah. Dalam waktu sebulan pun kami sibuk melihat rumah sana-sini, menimbang-nimbang harga, fasilitas, lokasi, kenyamanan, dsb. Hingga akhirnya kami tertarik dengan sebuah HDB di Bishan, sebuah rumah yang cukup nyaman dengan 3 kamar dan 2 kamar mandi. Kali ini tidak hanya aku, temanku, dan adikku, Ara, yang tinggal, tapi ada 3 orang lainnya. Dua orang sudah bekerja, satu temanku kenalan dari KBRI dan satunya lagi temannya temanku ini, dan satu lagi temennya Ara (mbulet ya :p hehe).

Akhirnya adaptasi lagi dengan suasana baru, pindahan lagi, gotong-gotong lagi, bikin peraturan lagi, dsb. Di fase ini aku sudah lebih berpengalaman dalam mengemukakan pendapatku, tapi untuk menegur temanku, terutama yang lebih tua, aku masih agak segan. Ternyata hal ini memerlukan ilmu tersendiri, cara berbicaranya sedikit beda dibandingkan ketika menegur teman yang sebaya. Tapi inilah hidup, sebanyak apapun kita menguasai sesuatu, pasti akan tetap ada hal yang perlu untuk dipelajari. Seperti tercantum pada sebuah hadits, "tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat" jadi kalau sampai aku tidak mau belajar, liang lahatlah tempatku bersemayam, hehe.

Hingga saat ini aku masih tinggal di HDB tercinta kami, kami penghuni-penghuni cantiknya (dilarang protes :p) memiliki group whatsapp sendiri untuk membahas permasalahan yang terjadi. Beberapa peraturan sudah di set, jadwal mencuci baju juga sudah disepakati. Pokoknya hidup kami cukup tentram lah disini. Hambatan tetep ada, apalah arti hidup tanpa hambatan hahaha, tapi asal komunikasi tetep jalan, insya Allah kami akan tetap bertahan :)

Oh iya, dari sekian banyak hal yang aku pelajari, yang paling berkesan adalah pelajaran bertanggung jawab dan ikhlas. Tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang aku sering kesal ketika mendapati dapur (daerah kekuasaanku, haha) dan meja makan kotor minta ampun. Biasanya kalo udah gini, dulu aku sungut-sungut sambil beresin, terus badmood all-day-long. Tapi sekarang, aku merasa lebih bisa berdamai dengan keadaan, aku mulai melakukan rutinitas pagi, yaitu sarapan, menata cucian piring bersih-bersih dapur, dan buang sampah. Entah siapapun yang mencuci semalam, atau siapapun yang buang sampah banyak-banyak semalam aku tetap melakukan rutinitas itu, dan aku belajar ikhlas. Aku belajar bahwa "yasudah, kalau memang aku ingin bersih-bersih ya aku akan bersih-bersih dengan senang hati. Kalau aku lagi tidak ingin, yasudah, biarkan saja." Sebenarnya bersih-bersih rumah juga bagian dari belajar untuk masa depan loh. Nanti kalau udah nikah pasti kan ada tuh masa dimana anak-anak yang ngeberantakin rumah, kamu yang beresin. Kalau kamu gak bisa memandang tugasmu dengan riang ya hidup akan terasa lebih berat, ngomel ngomel aja terus sampe tuwir :p hehe.

Kadang-kadang aku juga suka bermain peran sebagai mahasiswa gaul yang super sibuk, sehingga aku tetap menikmati tugasku. Aku harus masak, bersih-bersih rumah, ngerjain tugas, belanja, setrika baju, dan sebagainya. Tapi aku ngerasa keren aja gitu, soalnya aku kan emang lagi "jadi" mahasiswa gaul, calon the Bright Bride gituuuh, hahahaha. Aku juga jadi belajar tentang me-manage waktu, kapan kamu bisa bersih-bersih rumah total, kapan kamu hanya bersih-bersih seadanya soalnya deadline mengejar :D

Pokoknya banyak banget deh keuntungan dari kontrak rumah bareng-bareng atau bahasa kerennya "living together with strangers", karna kita manusia sebagai mahluk sosial akan selalu membutuhkan orang lain dalam hidup, terkadang orang tersebut adalah a total stranger, tapi gimana sikap kita untuk menguasai keadaan dan mendapatkan win-win solution, kapanpun, dimanapun dan untuk siapapun itu lah yang penting. Mari terus belajar bersama, kalau ada hal-hal seru lainnya yang sekiranya dapat menolong saya sebagai anak kos perantauan feel free untuk mention di twitter @enes_kusuma atau FB enes kusuma ya :))

Sekian artikel saya, semoga bermanfaat. Peace, love, and be happy :))

makan malam :9

weekend jogging *salah fokus* wkwk

malam tahun baru at (near) Marina Bay Sands





Sunday, March 9, 2014

Tersenyumlah, Karna Aku Ada

Kegelapan malam semakin terasa seiring berjalannya waktu, keheningan menjadi musik yang mengiringi tidurmu. Kau lihat kanan dan kirimu, semua sudah tertidur lelap. Seharusnya kau pun juga begitu, ditambah lagi kemarin malam tugas-tugas kuliah sukses membuatmu hanya tidur beberapa jam saja. Tapi kenyataannya, malam ini sedikitpun tak kunjung bisa kau pejamkan matamu. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu.

Matamu mulai nanar menerawang, kau urungkan niat untuk tidur. Meskipun tubuhmu sudah sangat lelah, meski otakmu sudah meronta butuh istirahat, tapi sayangnya hatimu menolak. Hingga kaupun menyadari bahwa kau sedang berperang melawan dirimu sendiri. Ada kenangan-kenangan lama yang menggeliat memasuki jiwamu, kenangan itu lambat laun mulai mengambil alih pikiranmu. Aaah kamu jadi teringat masa itu.

Terima saja bahwa malam ini kau sedang kurang beruntung, esok kau harus bangun pagi-pagi sekali dan malam ini kau malah diajak bermain oleh pikiranmu. Yah, anggap saja dewi keberuntungan memang sedang mengujimu, mungkin kau butuh sedikit "sentilan" dalam hidup ini untuk dapat menyadari apalah makna dari kehidupanmu ini.

Akhirnya, kau mengaku kalah dengan dirimu sendiri dan mulai membuka laptopmu untuk menuliskan segala keluh kesah yang bercengkrama dihatimu. Haha, kau memang orang yang tak pernah bisa mengungkapkan emosimu dengan baik secara verbal. Untunglah kau bisa menyalurkannya dalam tulisan dan gambar, ya, kau masih beruntung, setidaknya kamu tidak punya pikiran untuk mengakhiri hidupmu. Tidak secepat itu.

Kata demi kata mulai mengalir, ia membentuk suatu alur tertentu, alur yang tak dapat kau tebak ujungnya. Peduli setan dengan dimana cerita ini akan berakhir, yang kau pikirkan saat ini hanyalah bagaimana kau bisa menumpahkan segala keluh kesahmu, dan malam ini kau dapat tidur dengan tenang. Aah seandainya saja kau punya sedikit keberanian untuk memperjuangkan keinginanmu, kau tidak akan berakhir menyedihkan begini.

Entah sejak kapan pemikiran seperti itu ada padamu, sebuah pemikiran konyol dengan satu kesimpulan: kau tak akan pernah menang darinya, kau tak akan bisa mempertahankan keinginanmu. Argumenmu kurang kuat, setiap perkataanmu akan dengan mudahnya dipatahkan olehnya. Yah sepertinya kau harus cukup puas dengan hanya menuliskan perasaanmu, berharap saja waktu kan menyembuhkan lukamu.

Tapi tidak, kau yang sekarang hanya membohongi dirimu sendiri! Kau tahu semakin kau pendam, rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Tapi kau takut, kau takut keinginanmu akan dirusak lagi olehnya. Kau lebih memilih diam daripada melawan, karna sekuat apapun kau melawan, kau tak pernah bisa menang. Kau lebih memilih menelan semua kepahitan dan anganmu daripada harus bergulat dengannya. Kau yang sekarang sangat lemah! Kasihan sekali kau, apakah waktu yang telah mengajarimu itu semua?

Sudahlah, tubuhmu sudah lelah, matamu sudah sangat ingin terpejam, kau sudah harus istirahat. Hentikan saja keluh kesahmu ini. Berharaplah esok hari semua akan baik-baik saja. Semoga. Berharaplah esok hari keajaiban datang dan kau dapat kembali menatap hari dengan senyuman. Aku sudah merindukan senyuman indahmu itu, aku juga rindu tawa lepasmu. Tolonglah, hapus air matamu, jadilah orang yang kuat. Karna masih banyak yang menyayangimu. Dan aku, aku akan selalu ada disini menemanimu, akan kudengarkan keluh kesahmu. Meski kau tak dapat melihatku, tapi aku selalu ada untukmu, dan akan kupastikan bahwa kau akan baik-baik saja. Karna aku menyayangimu, maka tersenyumlah.

Wednesday, March 5, 2014

When I met my Besties

Hi folks! As I'm not in the mood for doing my assignments right now (although the deadline is tomorrow :p). Guess that I'll be telling you all my story from not-so-long time ago hehhe

So, the story was set up on the day where ashes from Mt. Kelud is still an issues in my beloved city, Salatiga. Although the ashes are wiped up by the rain, but, everywhere still looks grey, just exactly like my heart #eaaaaa just kidding hahaha. Okay back to the story, This weekend I canceled the seminars tour with my mom, because my besties are coming to town hohoho. It's really seldom for us to meet together with a complete members like this day, if I count it right, so it was our second time since we graduated from junior high, hoho

The first person that came to my house is Amung, she now lives in Semarang about 1 hour from Salatiga. We were so gabut because it's only two of us. So we decided to chat about everything that came up to our minds, whether it's about school, friends, town, planes, love life #eaaaa (although i don't have any story for that topic hehehe). Finally, two of my other friends showed up, those are Nunk and Hayu, they both are in SMANSSA (the number one government school in Salatiga). They came along with their motorbikes :D and the journey began.

Although it feels like I chew a lot of ashes in my mouth as we go along the road, but I just ignored it and enjoy the time with my besties. And... as always, whenever we meet up, we often cannot decided where we wanna go, and end up in the same place (again) as always. So we go to St*r steak, having lunch there, chat, and go, hohooho. And then we go around the city, we stopped by the library for awhile, then go to Rida's (the last members that haven't showed up in our group) school :) Actually, we want to be crazy and yelled Rida's name as we ride in front of Rida's school, but looking at the number of people we don't know there, we just do nothing and called Rida on her phone hehe.

Because Rida wanted to change her uniform into casual look, so we went to Rida's house. As usual, we also messed her room (that already messy before) :p hehehe. Finally, our (second) last tour, we went to Cici** milk near my house, I order for caramel milk, that's yummy :9 i didn't try the snacks though, so I can't rate it hehe. But the milk is delicious. We took a lot of pictures there, luckily we are the only one occupying the second floor, so we can put whatever poses we want, of course the normal one, or so I think :p

Oh I forgot to tell you that I also went to my junior high, it feels so nostalgic, the buildings are better than when I was still there. Many of my underclassmen also still playing basketball there, but I don't know any of them so I didn't greet them, hehe.

Okay, and the last destination was my home. We played poker til 8pm (in Salatiga, that's late night already).

Even though when you read this story, you might think that it's just an ordinary boring story, but for me, that's a really wonderful time that I want to share with you guys. Because, at that time, I felt like I could leave all my sadness behind, I could enjoy the moment as much as I can. And I'm looking forward for the time like this, before we all are busy with our university's life.  

There are some photos that we took at that day..





















Saturday, February 15, 2014

Sorry readers

For all my beloved readers, i'm so very sorry (lebay hahaha) that I leave you in a long long absent. You know, there is always an up and down in every activity, so I guess i'm just bored from filling this lovely blog, please please forgive me for my mistake, hope that I'll never bored again in the future. Hehe.

Okay, so there are many things I want to share with you all. Firstly, I already got my driving licenses both for car and motorcycle :3 After learning how to drive a car for more than one week, finally I'm brave enough to drive in the city hohoho.

Second news will be posted later kay :) hehe, anyway it's really nice to write again

love,

Enes Kusuma

Wednesday, May 22, 2013

Aku mencintaimu karna Allah

     Sakit hati. Galau. Air mata. Dan masih banyak hal lainnya yang sudah menjadi satu paket dengan keberanian kita --umunya para remaja-- untuk jatuh cinta. Pikiran selalu tertuju padanya, hand phone tidak pernah lepas dari genggaman tangan, mata selalu berbinar ketika melihat sosoknya atau hanya mendapat sms jawaban darinya. Tapi, sekalinya dia tidak menjawab sms, atau perhatiannya teralih sebentar untuk perempuan/lelaki lain, hatipun panas. Dan api cemburu pun berkobar tanpa mampu di cegah. Belajar nggak nafsu, makan nggak nafsu, bawaannya bad mood aja (oke nggak semua orang mengalami hal separah ini :p).
     Dibutakan oleh cinta, kita sering tidak menyadari berapa banyak waktu yang terbuang karenanya. Berapa banyak waktu yang kita gunakan hanya untuk menyiksa diri sendiri dengan semua tetek bengek cinta.
     Tidak munafik, aku juga remaja biasa, aku pernah mengalaminya. Aku pernah menghabiskan waktu-waktuku untuk memandangi HP, bete ketika dia nggak balas sms tapi sempat-sempatnya update status (curcol ceritanya, hehe), aku pernah mengalami semua rasa sakit itu, waktuku pernah terbuang percuma karenanya. Hingga akhirnya, sebuah kalimat tersebut membuat aku tersadar. Kalimat sederhana yang membuatku terhenyak sesaat.
     "Aku mencintaimu karena Allah" begitu yang tertulis di status seorang temanku di FB. Astaghfirullah, kemanakah aku selama ini? Aku terlalu sibuk mengurus sakit hati yang aku jabanin dari pagi sampai pagi berikutnya, sibuk terbang jauh melintasi dunia fantasiku, sibuk meredakan degup jantungku, karena aku mencintai mahluk ciptaanNya. Namun aku melupakan satu hal penting, aku melupakan cintaku padaNya. Cinta yang tidak pernah menuntut, tidak pernah menyakiti, selalu menenangkan, tidak pernah berkhianat dan selalu memberi semangat.
     Ya Allah kemana saja aku selama ini, hingga aku baru tersadar sekarang. Aku mencintai mahlukMu, bukan karenaMu, namun hanya untuk memuaskan nafsu sesaatku belaka. Hasilnya, ibadahku stagnan, tidak bertambah, cenderung berkurang. Waktuku banyak terbuang percuma. Ya Allah maafkan aku.
     Mulai saat ini aku bertekad untuk menilai kualitas cintaku kepada lawan jenis (jika itu bisa disebut cinta, hahaha) dengan melihat kualitas ibadahku. Bertambahkah? Atau justru berkurang?
     Ketika akhirnya kutemukan lelaki yang bisa menjadi pemimpin bagiku, menambah keimananku, dan dengan lembutnya mengatakan, "aku mencintaimu karena Allah." Disaat itu juga aku akan tahu bahwa bahtera cintaku sudah menemukan tempat berlabuh.
     Hingga saat itu datang, aku akan dengan sabar menanti sembari meningkatkan kualitas diriku. Karena lelaki baik-baik untuk wanita baik-baik dan wanita baik baik untuk lelaki baik baik :)

Jangan pernah menggantungkan sebuah hubungan. Halalkan atau tinggalkan. Pilihan ada di tanganmu.


Wednesday, May 15, 2013

Kenangan yang terlupakan

     Tengah malam begini, aku yang tidak bisa tidur iseng membuka-buka laci di kamarku. Sibuk mengobrak-abrik isi laci, kutemukan kembali foto-foto masa lalu. Dengan sigap ku kumpulkan kembali kenangan-kenangan yang berserakan tersebut. Lembar demi lembar kubuka. Dan tanpa kusadari senyumku mengembang tipis, raut wajahku bercampur antara geli dan sedih, seakan tidak rela akan masa-masa yang hilang, teman yang datang dan pergi, waktu yang terbuang, pertengkaran yang tak perlu.
     Otakku memaksa untuk mengingat-ingat kenangan itu dan mulai membandingkan satu demi satu wajah polos yang terpampang disana. Beberapa dari wajah itu sudah berubah drastis, sementara yang lain tidak terlalu banyak berubah. Temanku yang dulu tomboy dan polos, kini sudah berubah menjadi primadona sekolah. Yang dulunya senang berpetualang mengeksplor alam, sekarang lebih memilih menyusur jalan menggunakan sepeda motornya. Yang dulu cintanya selalu bertepuk sebelah tangan, sekarang sudah berkali-kali ganti pacar. Masih banyak lagi hal lain yang berubah dari diri masing-masing, aku akui, aku pun juga berubah, aku yang dulu anti memakai rok, sekarang mulai punya satu atau dua (meskipun dipakainya juga saat kehabisan celana, hehe).
     Beberapa dari kami sudah terpecah, membentuk kubu masing-masing. Predikat teman tetap kami sandang, hanya saja tidak seerat yang dulu. Senyum sapa masih kami lemparkan satu sama lain, tapi kami tidak lagi kemana-mana bersama. Teriakan histeris ketika bertemu masih ada, tapi tetap saja ada rasa yang berbeda.
     Kubuka lagi lembaran berikutnya. Foto ini, foto ketika kami mewawancarai kusir dokar, haha. Saat itu, kami sedang hobi-hobinya naik dokar berlima saat pulang sekolah, hanya sekedar mencari sensasi. Terkadang melambaikan tangan sambil senyum-senyum bangga ketika melewati teman-teman. Lucu, orisinil, dan unik. Hahaha.
     Foto berikutnya menunjukkan kami sedang bahu membahu melawan arus di sebuah sungai. Rumah salah satu temanku dekat sekali dengan sungai, sehingga tiap kali kami berkunjung ke sana, kami akan menyempatkan diri bermain di sungai dan berburu arus yang deras. Pernah kami dengan isengnya menyusuri sungai dari hulu hingga ke hilir. Banyak pemandangan ajaib yang kami temukan, sepasang kekasih yang sedang "mojok", mbah-mbah mandi yang seksi abis, anak-anak lelaki bermain air tanpa sehelai kain pun menutupi, dan masih banyak lagi. Namun disamping itu, pemandangan alam dan sensasi yang kami dapatkan sungguh tiada duanya :)
     Kali ini mataku tertuju pada foto lima orang remaja yang berbalut baju adat jawa. Salah satunya adalah aku yang menggunakan baju seorang pangeran. Yaps, that's me, memerankan seorang lelaki yang bertempur melawan pangeran lain untuk memenangkan hati sang putri, cliche. Dan putrinya adalah.... teman sebangkuku sendiri, nggak ono roman-romane blas! hahaha.
     Dan masih banyak foto lainnya dengan berbagai petualangan kami. Foto-foto tersebut sukses mengaduk-aduk perasaanku. Ada sesuatu yang ingin kulakukan kembali meskipun keadaan sudah berubah. Ingin rasanya pergi ke sawah saat hujan, merunduk setiap kali ada petir dan pulang dengan baju penuh lumpur. Ingin rasanya pergi ke sungai dan membiarkan diri ini hanyut terbawa arusnya. Ingin rasanya hanya berjalan mengikuti kemanapun kaki melangkah, membiarkan diri tersesat dan mencoba mencari jalan pulang. Ingin rasanya berteriak di atas bukit-bukit yang sepi, seakan tidak ada orang lain yang mendengar.
    Kenapa semakin bertambahnya umur kami, semakin hampa kegiatan yang kami lakukan. Nongkrong di rumah, internetan, nonton film, jalan-jalan pakai motor, pulang. Paling banter kami bisa pergi ke tempat-tempat yang dulu tidak mungkin kami tempuh dengan berjalan kaki, sayangnya suasananya tetap berbeda. Rasanya ada "hawa" yang ingin aku kembalikan, kemampuan kami untuk menikmati hal-hal sepele, kemampuan kami untuk bercerita lepas, tertawa dan tidak ada rasa "jaim" sedikitpun. Act like you don't have fear, act like a crazy person! Hujan-hujanan, tidur di jalanan saat hujan, main petak umpet, masuk ke gorong-gorong, main kejar-kejaran, mendapat tatapan "aneh" dari setiap orang yang melihat, dan kami tetap stay cool, hahahhaa. Aku ingin mengulang kembali kenangan itu dan mengabadikannya, tidak ada alasan yang jelas, aku hanya menginginkannya dan aku harap aku dapat mewujudkannya.


Monday, April 8, 2013

What I really want is just a simple hug

     Akhir-akhir ini sering bersitegang sama orang tua, banyak hal yang mereka katakan nggak cocok sama yang aku harapkan. Mungkin itu juga berlaku sebaliknya. Sepertinya emosiku yang naik turun dan ekspektasiku yang susah di tebak become the most dangerous trigger for that *sigh*
     Sempet heboh karna warning letter yang aku post di facebook, sebenernya itu juga buat seru-seruan, apa sih arti sebuah first warning letter, toh kalau aku mau aku juga bisa bilang ke Karen, dan semua settle, attendance aku bisa 100% lagi. Hebohnya ini nyerempet juga ke masalah apartemen aku yang udah pindah jadi di deket sekolah tapi berangkat masih suka telat. Oh come on, that's a common thing for last term students.
     Kalau aja mereka tahu, waktu aku dapet first warning letter, bukannya bingung tapi aku malah kegirangan setengah mati "finally! I'm normal, I made mistakes!" terus aku post di facebook, dengan harapan mereka bakal tanggepin "wih, asik ya yang dapet warning letter," terus ngomong-ngomong apalah gitu, I didn't expected to get scolded, you know. Because they never do it directly to me, biasanya bapak ibu cuma nasehatin lah, atau apalah gitu.
     Untungnya apartemenku di lantai 7, dan dia menghadap ke jalan. Cocok kali buat galau! Aku duduk di depan jendela (angin malem yang dingin aja aku cuekin) dari jam 11-an sampe jam 2. Jengkel banget rasanya, well, if I feel silly, then I would cry easily :p disitulah aku menghabiskan malam, agak lebai sih, tapi itu adalah obat penenang buat aku, daripada aku pendem, numpuk numpuk terus rasa jengkelnya, terus aku loncat dari lantai 7 (naudzubillah deh.. hii)
     Padahal aku masih harus belajar buat ulangan lusa, tapi sebodo amat lah, gak akan bisa masuk apapun materinya kalo lagi begini nih.
     Habis solat tahajud, akhirnya aku pergi tidur. Sebelum tidur, aku ingat, dulu waktu masih kecil, kalau aku buat salah pasti nanti kena marah. Waktu dimarahin aku pasti nangis, tapi setelah selesai dimarahin, bapak pasti bilang "sini... sini..." terus aku di peluk, habis itu di elus kepalanya sambil dibilang "jangan gitu lagi ya mbak, bapak gak suka.. (well whatever it is)"
     Baru sadar aku udah lama banget gak digituin. Kekanakan sih, tapi paling enggak aku ngerasa kalau aku itu disayang, aku itu istimewa. Menurut aku sih.. itu lebih masuk nasihatnya, karena waktu dinasehatin itu perasaan bersalah anak (seharusnya) jadi tinggi, kalo dimarahin justru jiwa pembangkangnya yang tinggi. Kemaren waktu aku (menurut mereka) salah, aku cuman dimarahin, dibiarin nangis, ditinggal. How mean :( a bit lebai sih :p tapi lihat lah aku sekarang, aku gak terlalu merasa bersalah, justru aku merasa kesal karna digituin. Aku pergi-pergi terus dan jarang di rumah itu juga ada alasannya, I was depressed at that time.
     Try to recall it mom, dad, waktu itu aku lagi ada masalah, yang nggak kecil untuk anak seumuranku. Well, aku emang kelihatan tangguh dari luar, nggak kayak anak seumuranku biasanya, tapi aku juga rapuh di dalem, come on, I'm sixteen dan lawanku itu seumuran dirimu bu, seumuran ibu. Aku pengen ngerasain bebas, sebelum balik terkekang (at that time). Aku pengen jalan kemanapun, aku gak mau di atur, tolong lah give me time to explain, aku tahu aku salah, tapi aku juga bakal sadar dengan sendirinya kok.

cuma ini doang sih yang mau aku tulis, no offense buat yang merasa yah.
   

Wednesday, February 20, 2013

f.r.i.e.n.d.s

     Wah, I just realize, it has been a long time since I wrote my previous posting . hehe, so sorry for that because I don't have much time now, even I have time, I always use it to rest, hehe.
     This posting will be more as a curhat session. So, sit back, relax and enjoy reading :)

Friends

     That word there has so many meanings for me. Friends are people who will support you when you are down and happy for you when you are up. They will always be there for you, no matter what happen to you, no matter how you have change, they will always be your friends.
     I never thought that my friendship in junior high will last this long. Because I always heard that high school's friend usually will be the one that becomes friends forever. I'm really happy 'bout that, because I never go through high school, told you, I skip my high school.
     Even though they are busy with their activities now, our friendship is still remain.My friends become my family. That's indeed ironic. Because sometimes your true family isn't like your family, they becomes stranger, but a stranger can become your family. They can care of you more than what your true family will do. That's what my best friends did. But I'm grateful that my parents and my siblings are my family PLUS my friend.
     Sometimes I think what the meaning of family truly is? When I discuss it with my parents, we found that family is a group of people who accept other's superiority and deficiency. They did not, do not and will not envy other's superiority and mock other's deficiency. Sometimes we do mock each other, but we know that the person doesn't mean to bring us down, it simply just a joke.
     I believe that if I write all the definition about friends, I will spend more than four pages to describe it, hehe. I just want to say "thank you for becoming my friends, thank you for accepting me as me, thank you for everything you've done for me, thank you for always be by my side, thank you :') I really miss you guys when we are apart"






Monday, November 26, 2012

P.A.T.I.E.N.T

sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.sabar.

sorry for the weird post. But, this one word, patient, is all I need for today. To be honest, today is not really a good day. In fact that I was having fun with all of my friend at the afternoon, but it turns to be hell in the night. I don't feel like it's comfy to be at home, it isn't like that anymore. Home and Hell have the same first letter. creepy actually :p

Monday, November 12, 2012

Ketika aku bersama teman-teman kecil :)

     Terkadang, mengajar anak-anak pra sekolah itu bisa bikin aku lupa sama masalah, rasa kangen, dan berbagai hal mengganggu lainnya. Kalau udah ketemu sama mereka, rasanya - entah mengapa - menyenangkan. Well, meskipun nggak semuanya menyenangkan sih, hehe. Biasanya tuh yang asik yang cewek-cewek, entah mengapa (lagi) mereka itu kayak lengket gitu sama aku :3 *bangga*
     Kemaren waktu di Saung Anak, awalnya aku takut bakal jadi tidak terkendali gitu, ternyata anaknya banyak yang baik-baik. Waktu pertama, ada anak cewek yang minta mainan boneka bareng, terus ada lagi yang ngekor terus kemanapun aku pergi, dan setiap kali dia melakukan sesuatu yang hebat *kayak manjat pager* dia pasti bilang, "kakak, kakak, liat aku!" lucu banget nggak sih.
     Waktu nge-les-in juga. Pertama kali aku ngerasa diterima waktu ngajar itu pas aku ngajar Kinan :D dia cerita-cerita ama bapak ibunya apa aja yang dia lakuin sama aku, permainan apa aja yang dia mainin. Terus yang kedua ada Tasya. Di hari pertama les, dia bahkan semacam nggak mau bicara sama aku, malu-malu banget. Di hari kedua dia nanyain mulu "kakak Enes mana?" seneng nggak sih kalo gitu :)
     Anak-anak itu polos banget, dan entah mengapa kalo lagi ngajar biasanya aku style nya kayak guru cowok gitu (menurut  pengamatanku guru cowok itu lebih asik, gampang di kerjain dan gampang ngebaur, kecuali guru SMP! guru cowok SMP ku jayus berat :p) kalo aku ngajar itu, aku lebih suka memasuki dunia mereka dan berubah jadi anak-anak, aku suka main dengan permainan mereka, yang kadang-kadang ngingetin sama permainan masa kecil.
     Aku suka mainan donal bebek, kejar-kejaran, lari-lari, adventure, dsb. haha, childish banget yah. Begitu aja sih, maap ya rata-rata tulisannya tentang opini ku, habisnya kan ini curcol getoh :D

Sunday, November 11, 2012

Abaikan

"well, jatuh cinta itu mudah. Tapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itu yang nggak mudah."

Jatuh cinta itu nggak dosa kok, tapi sakit :p
Kata orang, jatuh cinta itu sejuta rasanya, tapi yang aku rasain cuma satu sih ...

eaaa enes galau
#abaikan

Wednesday, November 7, 2012

Curhatan remaja

     Bohong kalau aku tidak pernah sakit hati. Semua orang pasti pernah sakit hati. Well in my case, kadang sering aku merasakan sakit hati yang sama seperti remaja lain rasakan, atau biasa disebut.. ehem.. galau :D or sometimes, what I feel is beyond all the teenager in my age's (supposed to) feel, kayak rasa sakit waktu barang dagangan di tolak. Dalem rasanya *sambil nunjuk-nunjuk hati* hehe.
     Whatever it is, I always have 1001 ways to heal it ;) Masih banyak hal positive yang bisa kita kerjakan, seperti: baca buku, nulis blog, nonton film, belajar (wuzz), fotografi, jalan-jalan, sepedaan, apapun.
     Terkadang aku juga trace back alasan kenapa aku sakit hati. Setelah tahu alasannya aku jadi bisa memilih cara menghibur diri paling efektif *beginilah ketika kamu anak kos yang hidup sendiri--curcol--semua harus bisa ditangani, hoho*
     One thing I never could forgive is when the heart win against me. Maksudnya, kalo gara-gara sakit hati aku jadi males-malesan, nggak mau belajar, murung terus, dan berbagai hal negatif lainnya, itu pantangan buat aku. Just remember that the negative thing brings another negative things. I don't want that ruin my whole day or life. Maap kalo artikel ini nggak jelas, karna ini sekadar curcol belaka. Maklum, ababil cuy! hehe. Anyway, keep smile and see ya ;)

Saturday, October 20, 2012

Real Nightmare

     I am an ordinary girl with a complete family, mom, dad, brother, and sister. They are always there when I need them. Until one day, we crash into an accident. I was the only person who survived. My happy-normal life is turning into disaster only in 10 minutes. I lost all of my family.
     I know that I still have friends that always support me when I feel down. But, it's just different. Sometimes I can hear my family's laugh in our dining room, where we are used to eat together, I can picture it when we watched a movie together till we fell a sleep. The word 'together' is making me crazy.
     I'm start working just to make my mind busy with my job. Even though I find it doesn't work, because when I'm alone, I become a desperate person, again. I always hope that it's just a dream. Every night I spend my time crying. Alone.

And then, I woke up. Luckily, it's just a dream. A nightmare actually. But I don't know why it feels like real, it's scared me.

Mom, dad, bro, sis, I just wanna say, I love you. much :')

Friday, September 14, 2012

Just share

     "I remember I was accompanying a group of teacher and headmaster from Indonesia. In Indonesia, government always spending their money to send teachers to have a training in Singapore. So I was guiding them to NTU. In the end of the event, some of my friend which is work in NTU asked me, ' are they really a teacher and headmaster?' 'I guess so,' 'here.. here... look what they do.' They were STEALING a teabag! Gosh.... They put all the thing inside their bag"

That was what my lecturer said in one of my class. What an embarrassing fact of my country. Is that really what our culture is? Are you teachers not ashamed of yourself? You told us every minutes to behave wherever you are in school, but outside the school... ugh!

Another story about this is when my father went for Hajj. He said that 'in Mecca a lot of people like to give something as an alms to other people. Even if it's just a dates, water, tea, everything. And if you want to know what are the things given by them, just go to the Indonesian people, see what they have in their room or bag, there are many alms they get from different people.' ugh!

"That's is the culture in Indonesia, but it wasn't like this in 10 or 20 years ago." said my lecturer.

So, why do we change? Ask yourself, and decide what will you behave tomorrow.

Saturday, August 4, 2012

My Chickenpox progress..

Day 1 (3 August 2012)...
     Today, I found a tiny red benjolan, I thought it was caused by a mosquito bite. I told my mother, and we agree to wait for one more day to decide what is that.

Day 2 ..
     There is two more benjolan, I was starting to worry.  But, I felt a little bit tired and  fell a sleep --without even bothering about that benjolan-- till afternoon. After I woke up, I found another two on my neck! That's enough to decide that I was infected by chickenpox. That really make me down. Because it is my HOLIDAY, and 2 more weeks is lebaran, where all my big family will come to Salatiga.
     After we pray maghrib, my parents took me to a clinic. It's brought me to a long long time ago, when I was in elementary school. It has the same atmosphere, the same place, but not the same age ;DD
     The doctor told me I need to rest for two weeks if it's getting worst, but he also said that it shouldn't be bad, because I was given the vaccine when I was child.
     I was really shocked, because that means I cannot do a pajamas party with my friend, bukber bilingual class, and others. I cannot do anything except crying and praying (and use a lot of tissues :p). I hate it but I cannot refuse it. Arrgghh, it drives me nuts ..

Day 3 ..
     Suddenly I'm thinking about making a table that arrange all the things I must do in one days. And this is it, I wrote: 8 glass of water, 1 bottle vitamin C, 2 glass of milk, drugs 3x and 2x, salep 4x, and finally the number of benjolan. And under the table I wrote "GANBATTE 1 MINGGU SEMBUH"
     I was shocked in the end of the day, when I count all the benjolan. Suddenly it spreads out into 19. O-ow, calm down, calm down :-/

Day 4..
     When I woke up this day, I felt bad. Because of this chicken pox I always been in an 'unstable' condition, sometimes I caught a cold (usually in the early morning and night).
     I always feel pain when I'm eating, because the chicken pox has 'attacked' my throat. That's terrible. And the worst news is the benjolan has became uncountable now, maybe around 40 or 50 and that's really disgusting. I even don't want to see myself on a mirror.

Day 5..
      I feel worse today -_- and I have decided for not fasting. So, here I am, continuing sleeping instead of eating sahur and got up again by 8 or 9. Because of the chicken pox in my throat also getting worse, I cannot eat properly anymore, I need to drink pediasure to change the food.
     And today, when I really really need to take a rest, I can't. Because the pain just don't let me to -_- that's awful. Even when I can have a rest for 1 hour only, that's not a good sleep T-T
     After taraweh my grand parents come and insist to see me. They comfort me with a story about this illness in the past. LOL.
     Time to sleep... and I can't. It's worse then the pain in the afternoon. Argh, and it 'attacks' my back. Just like many needles prick me in one time. I really panic because of that, I tried a lot of way, salep, bedak, until asking my mom to rub my back, but it doesn't work. On the contrary, it causes one benjolan to be 'crashed'. Until sahur I still can't sleep, but because I'm really tired, I don't care about my pain anymore and just sleep. Lucky, I can. And that's a pretty good sleep, fufufu.

Day 6..

Monday, May 14, 2012

Sulung cerita tentang Sekolah

     Bicara tentang sekolah... I feel like, it's sooooo boring. Only in the first 6 months (in Singapore) I can keep feeling happy to go to school (sampe aku kalo libur tuh rasanya bosen, bingung, dsb.) But, unluckily, I feel sick of school now. Pelajaran yang kali ini kurang menantang, ditambah dengan teman-teman yang sangaaaaat tidak menantang :p Aku lebih tertantang untuk berlatih angklung daripada sekolah. Emang dasarnya aku orangnya bosenan, jadi kalo nggak bener-bener passion aku, ya nggak betah lama-lama disitu, harus angkat pantat buat pindah 'tempat' :p
     Btw, aku ngerasa, sekolahku dulu di Indonesia lebih menyenangkan dibanding sekolahku yang sekarang ini. Meskipun pelajaran bejibun naujubileh dengan ulangan yang nggak kalah naujubilehnya, seenggaknya aku PUNYA TEMEN DEKET SEKELAS. Yang kemana-mana bareng, yang hangout after class, yang ngobrol di kelas, gosip-gosip lah, dsb.-- everything about teenager will do!
     Honestly, there are only 2 reasons why I'm willing to go to school.  I want to meet my friend and I want to see the 'special person' ;DD Tapi disini.... Nggak ada satupuuuun gelaaak. Temen deket di sekolah? Ada tapi beda kelas. Orang yang aku suka? Nggak ada cowok yang cukup bening di sekolah yang bisa bikin aku klepek-klepek tiap ngeliat dia :p 
     And the worst is ... semua kegiatan aku ada di luar sekolah. Arrghhh... Rasanya tuh ya, kayak di terbangin ama ikan paus ke langit ketujuh ><
     Jadwal sekolah itu hanyalah pengganggu yang merenggut semua kesenanganku dan menjadi penghalang buat aku menikmati kegiatan-kegiatanku. (This is the negative effects of taking the school that has no interesting extracurricular). 
     Aku pingin segera enyah dari sekolah, bikin bisnis sendiri, nanti kalo bisnisku udah mandiri, aku bisa belajar apapun yang aku mau, jadwalnya aku sendiri yang ngatur, kalo aku bosen tinggal berhenti dan switch to another activity, aku juga bisa ngadain kegiatan yang aku suka di perusahaanku, suka-suka akuu :DD
     Untung aja bentar lagi udah angkat kaki dari sekolah ini, semoga sekolah berikutnya lebih baik dan lebih menantang :)) Dan semoga aja tetep bisa belajar angklung juga :) aku suka belajar alat musik yang unik-unik begini, lebih gampang terkenalnya kalo dibawa ke sekolah XD hahah (kan nggak mungkin bawa2 piano ke sekolah :p)

Sekian tulisan saya, Salam si Sulung :))

Thursday, May 10, 2012

The reason is .... Angklung

     This weekend I will have an Angklung performance. So, this is me, in the middle of Angklung's voice which bersahut-sahutan one into another.
     Today is the last practice before the concert. That's why this day will take longer time to rehearsal than another "practicing day". And also, we must bring each of our Angklung back home, because it will be difficult for only one person to bring all the Angklung. Actually I do not need to bring my Angklung because After the rehearsal I still need to go to school, but I have a good feeling that it's better to bring my Angklung together with me for today.
     And that's true! First, I become a little bit famous in my class, because my musical instrument is unique :) A lot of people want to try the Angklung, even my lecture also :D
     Second, because of the raining it is impossible for me to go to the mosque while I bring the Angklung along with me. Then, I ask my English Teacher, Mr. Bear (do u still remember him :DD), to allowed me pray in his class. And the best part is, he's willing to drive me to the MRT station ^^ thanks a lot bear
     Third, along the way back home, I met a lot of teacher, some are close enough with me, and some are not. But they are all interesting with my Angklung and there is one teacher who doesn't know my name before, because the Angklung, now, she knows my name!
     And here we come on the Best of the Best Part.... When I'm alighting from the bus, there is one person who is looking at me, I just think maybe he is just have a glance on my Angklung, but then, he suddenly greet me and start to ask about Angklung. Honestly, he has a handsome face and nice intonation :) his English is very good, and I don't think that he's Singaporean, because his face and intonation is just not match with Singaporean's image XD
     Because I'm fascinated of him, I forget to ask his name and his phone number. I just know that he lives near my apartment -____- baka O.O

Today is just too good to be true :* I LOVE MY ANGKLUNG